Ban Tahu sangat membantu petani sawit ketika musim hujan
DESKRIPSI
Caption
Dharmasraya, salah satu kabupaten di Sumatera Barat ini sangat terkenal dengan potensi alamnya seperti perkebunan kelapa sawit dan karet. Sekitar 32% penduduk di daerah ini berasal dari pulau Jawa, karena proses transmigrasi pada tahun 1976 hingga 2002. Tujuan pemerintah ketika itu yaitu untuk pemanfaatan ladang tidur yang terhampar luas sekaligus untuk membuka lapangan kerja baru. Hingga sekarang, masyarakat Jawa masih menetap di berbagai daerah di Dharmasraya.
Jenis tanah di Kabupaten Dharmasraya sebagian besar berjenis Podzolik Merah Kuning (PMK), memiliki struktur yang khas seperti kekuningan atau kemerahan, mudah menyerap air. Untuk area kebun kelapa sawit sarana transportasi masih banyak yang kurang, seperti: penerangan hanya di perkampungan saja dan belum tersedianya akses untuk kendaraan umum dikarenakan jalanan yang susah ditempuh. Masyarakat mengandalkan kendaraan yang mereka miliki untuk aktivitas sehari-hari, seperti sepeda motor dan mobil.
Kendaraan yang mereka miliki harus sedikit dimodifikasi, khususnya sepeda motor. Kenapa? karena tekstur jalan yang licin dan berpasir akan mengakibatkan resiko kecelakaan jika meggunakan ban standar pabrik. Ban tahu atau trail menjadi alternatif warga untuk meminimalisir resiko kecelakaan, hal ini diungkapkan oleh Bro Pur, "kalau tidak pakai ban tahu, kendaraan tidak akan kuat nanjak, kemudian untuk jalan turun juga sangat berpengaruh".
Saat musim kemarau jalanan tidak terlalu bermasalah, warga hanya melawan debu-debu saja, namun ketika musim hujan tiba, "warga akan mengalami kesusahan, mau ke pasar bisa sekitar 2-4 jam, untuk ke ladang atau kebun pun harus ekstra hati-hati" ujar Pria asal Jawa Tengah yang sudah 27 tahun mencari nafkah di Dharmasraya tersebut. Hal itu dikarenakan akses jalan yang belum memadai, banyak kendaraan besar / pabrik yang melintas dijalanan yang akan mengakibatkan jalan bertambah rusak namun minim perhatian dari pemerintah setempat.
Ban tahu sangat membantu khususnya warga transmigrasi untuk beraktivitas sehari-hari. "Apa pun sepeda motornya, tidak akan lepas dari ban tahu, tujuannya sangat jelas, medan seperti ini hanya mampu dilalui dengan ban tahu, kalau ban lain tidak akan kuat jalan di medan seperti ini" imbuhnya. Anak-anak di daerah transmigrasi pun sudah diberikan sosialisasi oleh warga agar menggunakan ban tahu ketika berangkat sekolah yang jaraknya 5-10 Km.
"Saya berangkat jam 06.00 dari rumah, sampai sekolah jam 08.00 jika cuaca tidak hujan, jarak yang jauh mengharuskan saya untuk selalu aktif memeriksa sepeda motor agar tidak terjadi apa-apa ketika jalan apalagi soal ban", ungkap Laela, salah satu siswi MAN Dharmasraya.
Ban tahu atau Trail (Kotak-kotak) sangat cocok untuk jalanan berlumpur dan berpasir karena memang sesuai fungsinya untuk menstabilkan sepeda motor saat dikendarai di medan-medan yang ekstrem serta lebih awet dibandingkan ban biasa.
wooow